Alkisah, tersebutlah seorang pria yang putus asa dan ingin meninggalkan segalanya.
Meninggalkan pekerjaan, hubungan, dan berhenti hidup.
Ia lalu pergi ke hutan untuk bicara yang terakhir kalinya dengan Tuhan Sang Maha Pencipta.
“Tuhan,” katanya. “Apakah Tuhan bisa memberi saya satu alasan yang baik untuk jangan berhenti hidup dan menyerah?”
Jawaban Tuhan sangat mengejutkan.
“Coba lihat ke sekitarmu. Apakah kamu melihat pakis dan bambu?”
Ya,” jawab pria itu.
“Ketika menanam benih pakis dan benih bambu, Aku merawat keduanya secara sangat baik.
Aku memberi keduanya cahaya. Memberikan air. Pakis tumbuh cepat di bumi.
Daunnya yang hijau segar menutupi permukaan tanah hutan.
Sementara itu, benih bambu tidak menghasilkan apapun.
Tapi Aku tidak menyerah.
Pada tahun kedua, pakis tumbuh makin subur dan banyak,
tapi belum ada juga yang muncul dari benih bambu.
Tapi Aku tidak menyerah.
Di tahun ketiga, benih bambu belum juga memunculkan sesuatu.
Tapi Aku tidak menyerah.
Di tahun ke-4, masih juga belum ada apapun dari benih bambu.
Aku tidak menyerah,” kataNya.
skip to main |
skip to sidebar
At Wednesday's announcement of Google's +1, the company was coy about comparing its experimental product to the longstanding Facebook Like button. But in the two companies' ongoing battle for ad dollars, +1 is a clear shot across Facebook's bow.
Let's follow the money for a moment. Both companies get most of their revenue from advertising. They pitch their ad services based on their ability to serve highly targeted ads that get good results for brands and businesses. They are able to target ads based on the data they gather about users.
But here's the main difference: Facebook gathers data based on user-submitted profile information. Google has to rely on roundabout ways to get data for ad targeting. And some of those methods, including cookies that track browsing behavior, are coming under fire from citizens and governments.
As you can see from the chart below, Google has a lot to worry about when it comes to competing with Facebook for ad dollars. Google commands 12.6% of the annual $10.1 billion U.S. online ad spend; Facebook trumps that figure by nine full percentage points.
New user acquisition
Google's +1 buttons will soon appear in Google Search, one of the most widely used services on the Internet. And clicking them will require the user to have a Google profile.
As Google's Manager of Global Communications Jim Prosser told us in an email, "We think it's important for users to know who they are seeing +12 s from, which is why we have the upgrade or creation of a Google profile as part of the flow of a user's first +1."
Sunday, April 3, 2011
Ketika si Inem Merambah Bisnis
Ada yang tau Inem? Ehhmm.. mungkin kalo inem, banyak tuch yang namanya inem. Kalau Inem si Pelayan Seksi tau? Ahh.. kalo yang ini mungkin lebih banyak yang tau. Film ini sendiri populer tahun 70an, dan pernah juga sempat dibikin versi anyarnya di tahun 90an. So, buat yang generasi tahun 2000an mungkin gak mengenal tokoh ini. Loh, kok AntonHuang.com membahas soal Inem? Apa hubungannya dengan blog sharing motivasi dan inspirasi ini, kata motivasi, cerita motivasi, kata mutiara dan kata bijak?
Aha.. Saya cuma mau memberitahukan kalo si Inem si Pelayan Seksi, itu telah merambah masuk ke dunia bisnis dan motivasi. Wowww… Keren juga yah kalo motivator dan trainer bisnisnya kayak si Inem Pelayan seksi.. Bakal rame kayaknya acaranya, tapi ya itu, sepertinya bakal cowok semua dah yang ikut, dan motivasinya besar sekali deh (btw, motivasi apaan dulu ya kalo seminar motivasinya dibawakan oleh si Inem ini, haha.. ). Aha.. TAPI saya bukannya mau cerita ini loch.. Saya mau kasih tau pemirsa bahwa “si Inem” mulai merambah bisnis bisnis dan motivasi dan “si Inem” pun mulai mobile. Sekarang kemana-mana bawa Handphone.. Oke. Mari kita bahas lebih lanjut apa itu “si Inem”.
Nah, mulai bulan Mei, tepatnya tgl 20 Mei nanti, Blog AntonHuang.com akan mengeluarkan Mobile Inem. Woww… apa itu Mobile Inem? yang jelas bukan si Inem Pelayan Seksi yang mobile, kemana-mana bawa HP ataupun bukan juga si Inem yang mempromosikan diri lewat mobile phone. Apa yang saya maksudkan dengan mobile Inem ini? Nah, inilah Mobile Inem. Blog AntonHuang.com ini mengeluarkan majalah online. Ya, Majalah online tentang MOtivasi dan BIsnis Lewat INternet Marketing. Kenapa saya pilih nama Mobile Inem untuk majalah online motivasi dan bisnis di antonhuang.com ini? Ehmm.. Ini ceritanya.
Aha.. Saya cuma mau memberitahukan kalo si Inem si Pelayan Seksi, itu telah merambah masuk ke dunia bisnis dan motivasi. Wowww… Keren juga yah kalo motivator dan trainer bisnisnya kayak si Inem Pelayan seksi.. Bakal rame kayaknya acaranya, tapi ya itu, sepertinya bakal cowok semua dah yang ikut, dan motivasinya besar sekali deh (btw, motivasi apaan dulu ya kalo seminar motivasinya dibawakan oleh si Inem ini, haha.. ). Aha.. TAPI saya bukannya mau cerita ini loch.. Saya mau kasih tau pemirsa bahwa “si Inem” mulai merambah bisnis bisnis dan motivasi dan “si Inem” pun mulai mobile. Sekarang kemana-mana bawa Handphone.. Oke. Mari kita bahas lebih lanjut apa itu “si Inem”.
Miskin?Siapa Takut!
Aha.. Miskin? Siapa Takut!! Saya pernah ingat kata-kata ini diucapkan oleh salah seorang pengusaha sukses yang pernah saya ajak ngobrol. Pengusaha sukses ini sudah pensiun sekarang dari kegiatan usahanya, semua usahanya diserahkan pada orang kepercayaannya dan tiap bulannya ia menerima pasif income. Nah, pernah ngobrol sedikit, dan saya tanya-tanya. Apa prinsip sukses yang ia jalankan dalam meraih sukses?
Ia sendiri dulunya berlatar belakang bukanlah dari keluarga kaya. Jauh Malah… Orang tuanya seorang penjual kue keliling, ia sendiri tidak tamatan kuliah, malah cuma tamat SMP. Masa kecilnya besar di jalanan, bekerja mencari uang seumur anak SMP, dengan menjadi kernet angkot. Sampingan lainnya adalah menggali parit. Ini ia jalankan di masa kecilnya. Namun sekarang telah menjadi pengusaha sukses, yang malah sudah tidak aktif lagi dalam kegiatan usaha, namun berpenghasilan pasif income. Ini yang namanya usaha jalan, pemiliknya jalan-jalan. Ya, itulah nikmatnya jadi pengusaha sukses. Nah, bagaimana kisahnya dan prinsip yang ia pegang sehingga bisa mengubah kehidupannya dari anak jalanan menjadi pengusaha sukses? Mari kita ikuti kisah singkat perjalanan suksesnya..
Semasa kecil, dengan bermodalkan “bosan pada kemiskinan”, ia bekerja keras. Namun, ia tau kalau hanya dengan menjadi kernet angkot dan penggali parit, tentunya tidak akan mengubah nasibnya. Ia sadar, bahwa manusia mengubah nasib, bukan nasib digariskan oleh yang maha kuasa. Nasib bisa diubah. Nasib juga bukan bawaan keturunan. Ia bekerja menjadi pegawai di sebuah toko baju. Ia bekerja keras, bekerja rajin. Namun, ia bekerja bukan untuk mencari uang, melainkan ingin mendapatkan pengalaman, pengetahuan dan kenalan. So, gaji tidak menjadi prioritas utamanya. Ia tau kalau syarat untuk sukses, haruslah bekerja keras. Ia sambil bekerja, sambil membangun network.
Ia sendiri dulunya berlatar belakang bukanlah dari keluarga kaya. Jauh Malah… Orang tuanya seorang penjual kue keliling, ia sendiri tidak tamatan kuliah, malah cuma tamat SMP. Masa kecilnya besar di jalanan, bekerja mencari uang seumur anak SMP, dengan menjadi kernet angkot. Sampingan lainnya adalah menggali parit. Ini ia jalankan di masa kecilnya. Namun sekarang telah menjadi pengusaha sukses, yang malah sudah tidak aktif lagi dalam kegiatan usaha, namun berpenghasilan pasif income. Ini yang namanya usaha jalan, pemiliknya jalan-jalan. Ya, itulah nikmatnya jadi pengusaha sukses. Nah, bagaimana kisahnya dan prinsip yang ia pegang sehingga bisa mengubah kehidupannya dari anak jalanan menjadi pengusaha sukses? Mari kita ikuti kisah singkat perjalanan suksesnya..
Semasa kecil, dengan bermodalkan “bosan pada kemiskinan”, ia bekerja keras. Namun, ia tau kalau hanya dengan menjadi kernet angkot dan penggali parit, tentunya tidak akan mengubah nasibnya. Ia sadar, bahwa manusia mengubah nasib, bukan nasib digariskan oleh yang maha kuasa. Nasib bisa diubah. Nasib juga bukan bawaan keturunan. Ia bekerja menjadi pegawai di sebuah toko baju. Ia bekerja keras, bekerja rajin. Namun, ia bekerja bukan untuk mencari uang, melainkan ingin mendapatkan pengalaman, pengetahuan dan kenalan. So, gaji tidak menjadi prioritas utamanya. Ia tau kalau syarat untuk sukses, haruslah bekerja keras. Ia sambil bekerja, sambil membangun network.
Surat Inspirasi
Wahai anakku,
Surat ini datang dari Ibumu yang selalu dirundung sengsara… Setelah berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kali menulis, setiap kali itu pula gores tulisan terhalang oleh tangis, dan setiap kali menitikkan air mata setiap itu pula hati terluka…
Wahai anakku!
Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak! Karenanya engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau remas kertas ini lalu engkau merobeknya, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hati dan telah engkau robek pula perasaanku.
Wahai anakku… 25 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku. Suatu ketika dokter datang menyampaikan kabar tentang kehamilanku dan semua ibu sangat mengetahui arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam diri ini sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi…
Semenjak kabar gembira tersebut aku membawamu 9 bulan. Tidur, berdiri, makan dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi itu semua tidak mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.
Surat ini datang dari Ibumu yang selalu dirundung sengsara… Setelah berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kali menulis, setiap kali itu pula gores tulisan terhalang oleh tangis, dan setiap kali menitikkan air mata setiap itu pula hati terluka…
Wahai anakku!
Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak! Karenanya engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau remas kertas ini lalu engkau merobeknya, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hati dan telah engkau robek pula perasaanku.
Wahai anakku… 25 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku. Suatu ketika dokter datang menyampaikan kabar tentang kehamilanku dan semua ibu sangat mengetahui arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam diri ini sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi…
Semenjak kabar gembira tersebut aku membawamu 9 bulan. Tidur, berdiri, makan dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi itu semua tidak mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.
Saturday, April 2, 2011
What Google's +1 means for Facebook
At Wednesday's announcement of Google's +1, the company was coy about comparing its experimental product to the longstanding Facebook Like button. But in the two companies' ongoing battle for ad dollars, +1 is a clear shot across Facebook's bow.
Let's follow the money for a moment. Both companies get most of their revenue from advertising. They pitch their ad services based on their ability to serve highly targeted ads that get good results for brands and businesses. They are able to target ads based on the data they gather about users.
But here's the main difference: Facebook gathers data based on user-submitted profile information. Google has to rely on roundabout ways to get data for ad targeting. And some of those methods, including cookies that track browsing behavior, are coming under fire from citizens and governments.
As you can see from the chart below, Google has a lot to worry about when it comes to competing with Facebook for ad dollars. Google commands 12.6% of the annual $10.1 billion U.S. online ad spend; Facebook trumps that figure by nine full percentage points.
New user acquisition
Google's +1 buttons will soon appear in Google Search, one of the most widely used services on the Internet. And clicking them will require the user to have a Google profile.
As Google's Manager of Global Communications Jim Prosser told us in an email, "We think it's important for users to know who they are seeing +12 s from, which is why we have the upgrade or creation of a Google profile as part of the flow of a user's first +1."
Blog Archive
Entri Populer
-
Kita semua mengetahui bahwa sesungguhnya manusia itu tidak sempurna, segalanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Maka, sebaiknya perbedaa...
-
Mungkin, salah satu penyakit paling kronis yang sudah menggerogoti kehidupan manusia di muka bumi ini adalah KEBOHONGAN. Kebohongan alia...
-
Francisco Dao is over it. He's been a part of the upstart tech scene for years, and he's seen art of the personal connection disa...
-
Cerita singkat ini, ehmm.. lebih mirip uraian, telah banyak memberikan motivasi dan inspirasi. Ini bukan tulisan hasil pemikiran saya, say...
-
Hybrids and electric vehicles were just the beginning. Next up: the mushroom mobile. Ecovative Design , a startup in Green Island, N.Y., i...
Blog Roll
Translate
Followers
Powered by Blogger.


