Thursday, March 31, 2011

TUHAN, JADIKAN SAYA SEBUTIR UBI

Apa yg terjadi jika sebutir ubi dan sebutir telur dimasukkan ke
dalam air mendidih? Apa kedua benda itu keluar dari panci panas
dalam keadaan yang sama dengan keadaan sebelum digodok? Air
mendidih mengubah ubi dan telur itu.
Namun perubahan yg terjadi pada kedua benda itu sangat bertolak
belakang. Setelah digodok telur menjadi keras. Sebaliknya, ubi
menjadi lembut.
Kedua benda itu berada dalam panci yg sama dan air mendidih yg
sama, namun reaksi mereka berbeda. telur akan muncul dalam
keadaan keras, sedangkan ubi akan muncul dalam keadaan lembut.

Dalam hidup ini ada masa dimana kita harus masuk ke dalam panci
yang berisi air mendidih, yaitu musibah dan penderitaan. Dalam
musibah kita merasakan betapa sakit dan nyeri digodok dalam air
mendidih.
Musibah dan penderitaan bisa terasa sangat kejam dan
menyakitkan bagaikan menusuk tulang sumsum dan hati. Apalagi
ketika musibah demi musibah datang menimpa bagaikan tak ada
habisnya. Kita seperti terhempas lemaas. sambil menunduk
dan menarik nafas panjang kita bertanya lirih, "Oh, Tuhan,
mengapa ini harus terjadi?"

Namun kenyataan adalah kenyataan. Musibah itu sudah atau sedang
terjadi. Jadi yang lebih mendesak bukanlah persoalan mengapa
musibah ini terjadi, melainkan bagaimana menghadapinya.
bagaimana bisa melewati dan mengatasi musibah ini. Bagaimana
bisa survive dalam dan dari musibah ini.
Jika  musibah dan penderitaan merupakan ibarat digodok dalam
panci, soalnya adalah bagaimana kita bisa ke luar dan dalam
keadaan bagaimana kita akan ke luar dari panci itu. Apakah kita
akan keluar sebagai telur ataukah sebagai ubi?

Di sinilah terlatak dampak yg paling mendasar dari suatu
penderitaan atau musibah. Dari waktu ke waktu tiap orang
mengalami penderitaan dan musibah.
Tetapi cara orang ke luar dari penderitaan atau musibah
berbeda-beda. Ada orang yang ke luar dari musibah dalam keadaan
yang sangat tertekan.
Mukanya selalu suram. ia menyendiri. Hidupnya menjadi pahit dan
getir. Sikapnya terhadap orang lain menjadi kaku. Ia menjadi
keras. ia ibarat telur yg setelah ke luar dari air mendidih
menjadi keras. Sebaliknya, ada orang yg setelah ke luar dari
musibah justru menjadi bijak dan matang. Ia merasa damai dengan
dirinya. sikapnya hangat dan ramah.
Ia tersenyum dan menyapa. ia menjadi lembut. Ia ibarat ubi yang
setelah digodok justru menjadi lembut.
Dampak itu bisa begitu berbeda, sebab pandangan dan ketahanan
orang terhadap penderitaan dan musibah berbeda-beda.
Pengarang Surat Yakobus menulis, ......turutilah teladan
penderitaan dan kesabaran para nabi......sesungguhnya kami
menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yg telah bertekun;
kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu
apa yg pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena
Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan"

Menurut Yakobus kuncinya adalah bertekun. orang yg mau bertekun
(Yunaninya:upomonen, artinya :tabah,bertahan,setia,bertekun)
dalam penderitaan adalah orang yg berbahagia. "Kami menyebut
mereka berbahagia, yaitu mereka yg telah bertekun.
Paulus mengalimatkan kaitan ini secara lebih rinci:"Kita malah
bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu  bahwa
kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan
menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan".
Malang tak dapata ditolak, mujur tak dapat diraih. Penderitaan
dan musibah tidak dapat dihindarkan. Itu adalah bagian hidup.
Hidup adalah ibarat roda, sebentar di atas, sebentar di bawah.
Hidup ini ada enaknya dan ada tidak enaknya, yaitu masuk dalam
panci dan digodok dalam air mendidih.

Soalnya, apakah kita akan ke luar dari panci panas itu sebagai
telur rebus yg keras ataukah sebagai ubi yang lembut? Apakah
kita akan ke luar dari sebuah musibah sebagai orang yang kaku
dan keras ataukah sebaliknya, sebagai orang yang berhati lembut?

Agaknya, dalam suatu musibah kita boleh belajar berbisik,
:Tuhan, biarlah saya menjadi seperti ubi.... seperti sebutir ubi
rebus yang lembut, hangat dan manis....

0 komentar:

Post a Comment